Wednesday, November 20, 2002

Dingin ini terlalu sayang untuk dilewatkan
Ketika mataku tak bisa juga menutup
Lembar demi lembar kenangan dan
harapan yang selalu menyetubuhiku
dengan semua kesombongannya

Puisi begitu naif menggambar malam, pagi, angin, bulan, cinta dan kepedihan. Tak bisakah kau buatkan aku puisi tentang kopi dan sebatang rokok gudang garam ?
Karena hanya merekalah yang ternyata terlalu setia mengantarku melewati mimpi-mimpi dan hasrat yang hanya absurd dan tak berkesudahan.
Mari kita selesaikan mimpi-mimpi ini, mari kita bangun dari tidur dan ucapkan selamat pagi bagimu seperti secangkir kopi dan sebatang rokok.
Begitu sederhana dan terlalu dalam makna-makna yang mungkin dapat kuurai lewat tulisan-tulisan ini.
Kau tahu ini bukan masalah apa-apa ini hanya masalah ruang dan waktu dan segalanya yang terasa semakin
Hambar....

[Wawan Rupawan.prod]

No comments: